Tamasya Pembawa Duka 

 

Gambar dari BBC.com

Pandemi Covid-19 sudah menyerang sebagian wilayah Indonesia selama 8 bulan lamanya. Kehidupan masyarakat mulai berubah dan lebih beradaptasi dengan adanya pandemi tersebut, tak terkecuali pada bidang pendidikan. Sejak adanya pandemi pelajar di seluruh Indonesia melakukan kegiatan belajar mengajar secara daring dengan media online yang ada untuk mencegah penularan virus covid-19 di klaster sekolah. Namun, pada waktu belakangan ini pembelajaran luring mulai dilakukan pada sekolah-sekolah yang berada di zona hijau.

Pembelajaran luring dipilih untuk mengatasi rasa bosan siswa dan juga tuntutan dari orang tua siswa yang menginginkan adanya pembelajaran tatap muka. Ada beberapa sekolah yang menggunakan metode home visit dan membuat siswa menjadi beberapa kelompok untuk meminimalisir adanya kontak fisik dengan orang banyak dan tetap melaksanakan protokol kesehatan. Ada juga sekolah yang membuat siswa menjadi beberapa kelompok kemudian masuk pada hari tertentu secara bergilir. Kemudian ada juga yang datang ke sekolah hanya untuk mengambil tugas dan memperoleh bimbingan secara singkat.

Berbagai metode tersebut nyatanya belum mampu untuk mencegah penularan virus covid-19 di klaster sekolah. Penerapan protokol kesehatan belum sepenuhnya dilaksanakan dan waktu di rumah masih lebih banyak daripada waktu disekolah. Siswa yang belajar secara mandiri cenderung mengesampingkan belajar. Malah banyak dari mereka yang diajak untuk berlibur ke daerah-daerah pariwisata dan bahkan ke luar kota.

Seperti kasus yang terjadi di desa Randusari, Wonogiri. Mahesa bocah 8 tahun yang tewas akibat covid-19. Orang tua Mahesa dua-duanya merantau ke Jakarta kemudian mengajak Mahesa untuk ikut ke Jakarta karena di rumah hanya diasuh oleh nenek dan pamannya. Sebelumnya Mahesa masih suka bermain seperti anak pada umumnya. Semuanya berawal ketika Mahesa pulang ke kampung dan merasakan gejala seperti covid-19.

Orang tua Mahesa yang tidak tahu hanya menganggap bahwa Mahesa terkena flu biasa. Mahesa bahkan masih mengikuti sekolah luring yang diadakan di sekolah. Namun, setelah diperiksa lebih lanjut Mahesa dinyatakan positif terkena covid-19. Mahesa meninggal karena sebelumnya juga memiliki riwayat penyakit bawaan yakni paru-paru basah. Kejadian tersebut membuat 2 RT di isolasi dan sekolah-sekolah disekitar tempat tinggal Mahesa melakukan pembelajaran daring kembali untuk menghindari penyebaran virus.

Pembelajaran daring bukanlah waktu untuk bertamasya melainkan waktu untuk membenahi diri untuk hidup sehat tanpa mengesampingkan kewajiban belajar siswa. Pendidikan sudah disesuaikan dengan sedemikian rupa agar siswa masih dapat belajar meskipun dibatasi oleh jaringan. Sebagai orang tua hendaknya memberikan semangat dan motivasi agar anak mau belajar meskipun dirumah saja, bukan malah mengajak anak untuk bertamasya atau ke luar kota. Penyebaran virus covid-19 dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Perlunya upaya untuk menjaga pola hidup sehat dan sosial distancing seharusnya dapat dilaksanakan melalui kesadaran individu, sehingga kasus seperti Mahesa tidak terjadi lagi di Indonesia.

Komentar