Tamasya Pembawa Duka
Pandemi
Covid-19 sudah menyerang sebagian wilayah Indonesia selama 8 bulan lamanya.
Kehidupan masyarakat mulai berubah dan lebih beradaptasi dengan adanya pandemi
tersebut, tak terkecuali pada bidang pendidikan. Sejak adanya pandemi pelajar
di seluruh Indonesia melakukan kegiatan belajar mengajar secara daring dengan
media online yang ada untuk mencegah penularan virus covid-19 di klaster
sekolah. Namun, pada waktu belakangan ini pembelajaran luring mulai dilakukan
pada sekolah-sekolah yang berada di zona hijau.
Pembelajaran
luring dipilih untuk mengatasi rasa bosan siswa dan juga tuntutan dari orang
tua siswa yang menginginkan adanya pembelajaran tatap muka. Ada beberapa
sekolah yang menggunakan metode home visit dan membuat siswa menjadi beberapa
kelompok untuk meminimalisir adanya kontak fisik dengan orang banyak dan tetap
melaksanakan protokol kesehatan. Ada juga sekolah yang membuat siswa menjadi beberapa
kelompok kemudian masuk pada hari tertentu secara bergilir. Kemudian ada juga
yang datang ke sekolah hanya untuk mengambil tugas dan memperoleh bimbingan
secara singkat.
Berbagai
metode tersebut nyatanya belum mampu untuk mencegah penularan virus covid-19 di
klaster sekolah. Penerapan protokol kesehatan belum sepenuhnya dilaksanakan dan
waktu di rumah masih lebih banyak daripada waktu disekolah. Siswa yang belajar
secara mandiri cenderung mengesampingkan belajar. Malah banyak dari mereka yang
diajak untuk berlibur ke daerah-daerah pariwisata dan bahkan ke luar kota.
Seperti
kasus yang terjadi di desa Randusari, Wonogiri. Mahesa bocah 8 tahun yang tewas
akibat covid-19. Orang tua Mahesa dua-duanya merantau ke Jakarta kemudian
mengajak Mahesa untuk ikut ke Jakarta karena di rumah hanya diasuh oleh nenek
dan pamannya. Sebelumnya Mahesa masih suka bermain seperti anak pada umumnya.
Semuanya berawal ketika Mahesa pulang ke kampung dan merasakan gejala seperti
covid-19.
Orang
tua Mahesa yang tidak tahu hanya menganggap bahwa Mahesa terkena flu biasa. Mahesa
bahkan masih mengikuti sekolah luring yang diadakan di sekolah. Namun, setelah
diperiksa lebih lanjut Mahesa dinyatakan positif terkena covid-19. Mahesa
meninggal karena sebelumnya juga memiliki riwayat penyakit bawaan yakni
paru-paru basah. Kejadian tersebut membuat 2 RT di isolasi dan sekolah-sekolah
disekitar tempat tinggal Mahesa melakukan pembelajaran daring kembali untuk
menghindari penyebaran virus.
Pembelajaran
daring bukanlah waktu untuk bertamasya melainkan waktu untuk membenahi diri
untuk hidup sehat tanpa mengesampingkan kewajiban belajar siswa. Pendidikan
sudah disesuaikan dengan sedemikian rupa agar siswa masih dapat belajar
meskipun dibatasi oleh jaringan. Sebagai orang tua hendaknya memberikan
semangat dan motivasi agar anak mau belajar meskipun dirumah saja, bukan malah
mengajak anak untuk bertamasya atau ke luar kota. Penyebaran virus covid-19
dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Perlunya upaya untuk menjaga pola
hidup sehat dan sosial distancing seharusnya dapat dilaksanakan melalui
kesadaran individu, sehingga kasus seperti Mahesa tidak terjadi lagi di
Indonesia.

Komentar
Posting Komentar