Hilang Pekerjaan Akibat Pandemi
Lima bulan sudah
bergantung pada belas kasih Tuhan. Sebelumnya Mamo adalah seorang pedagang
cilok di sekolah-sekolah. Semenjak Corona menggila ia kehilangan sumber mata
pencahariannya. Sekolah tempatnya berjualan terpaksa diliburkan entah hingga
kapan. Untungnya, Mamo dapat pulang ke kampung halaman sebelum aturan ‘dirumah
aja’ diterapkan di berbagai daerah.
Sehari-hari Mamo hanya
bergantung pada nasib untuk makan. Pemerintah yang katanya membagi-bagikan uang
hanya berlaku untuk orang-orang dengan tampang belas kasihan. Padahal banyak
dari mereka yang hanya memanfaatkan keadaan untuk lebih memperkaya diri bukan
karena terdesak kebutuhan. Meski begitu Mamo tetap berbesar hati, katanya “Ra
enak mangan rejeki sing udu hak e” tidak enak makan rezeki yang bukan haknya.
Mamo memang bukan
berasal dari keluarga kaya, tapi tak lantas mengubahnya menjadi seseorang yang
serakah. Ia selalu mengajarkan kepada anak-anaknya agar tidak berputus asa dan
selalu berusaha. Berkat tekatnya itu juga, ia mendorong anaknya untuk
berkuliah. Bagi Mamo pendidikan adalah nomor satu. Pendidikan mampu merubah
nasib, tidak melulu soal uang tetapi pola pikir maju dan wawasan yang terbuka
lebih penting dari sekedar uang.
Mungkin bukan hanya
Mamo yang merasakan kehilangan pekerjaan dan bergantung pada nasib. Era pandemi
ini benar-benar mengubah dunia. Kesejahteraan masyarakat mulai menurun,
kemampuan jual beli pada masyarakat juga menurun drastis. Pemerintah sebenarnya
telah memberikan upaya-upaya untuk menanggulangi seperti dengan menggelontorkan
sejumlah bantuan. Tapi bantuan tersebut juga di selubungi dengan berbagai
aturan-aturan yang merepotkan, yang kadang malah salah sasaran.
Masyarakat yang
benar-benar kehilangan pekerjaan, terdesak kebutuhan justru tidak mendapat perhatian.
Sangat disayangkan karena seharusnya keadilan untuk seluruh warga negara
Indonesia nyatanya tidak pernah didapatkan, baik di daerah maupun di kota-kota
besar kenyataan semacam itu tentu ada. Meskipun menyalahkan pemerintah tidak
selalu benar. Karena bisa jadi kesalahan malah terletak pada
perangkat-perangkat bawahan yang tidak jujur dalam melaksanakan pekerjaannya.
Bagi Mamo bukan masalah
bantuanya, tetapi Ia ingin diperlakukan adil sama dengan masyarakat lainnya.
Cukup berat juga katanya bertahan lima bulan lebih tanpa pekerjaan. Kebutuhan
rumah tangga, lebih-lebih biaya untuk membayar kuliah juga tidak dapat
dihindarkan. Jika ada kesempatan untuk bekerja Mamo lebih memilih untuk
berkerja dari pada meminta belas kasihan pemerintah. Namun, seperti yang telah
diketahui lapangan pekerjaan pun juga ikut berkurang era pandemi ini. Banyak
perusahaan-perusahaan besar yang ikut gulung tikar hingga PHK besar-besaran.
Tentu butuh perhatian lebih dari pemerintah untuk mengeluarkan solusi lain
bukan hanya memberikan bantuan yang malah menimbulkan masalah baru.
Komentar
Posting Komentar