Pemudik
Dirikan Tenda Akibat Corona
Wonogiri,
Rabu (1/4) – Akibat adanya virus Covid -19
(corona) yang telah meluas di berbagai daerah di Indonesia, pemerintah
menetapkan kebijakan untuk tinggal dirumah selama virus masih menyebar. Hal
tersebut sangat berdampak pada kehidupan masyarakat. Berbagai aspek kehidupan
masyarakat menjadi terganggu. Salah satunya bidang ekonomi.
Banyak
masyarakat perantauan yang mulai kesulitan dalam pekerjaannya sehingga
memutuskan untuk mudik. Meskipun pemerintah, khusunya pemerintah daerah
Provinsi Jawa Tengah melalui Gubernur Ganjar Pranowo menghimbau untuk para
perantau yang berasal dari kota-kota besar untuk tidak mudik. Hal ini
dimaksudkan untuk mengurangi persebaran
virus Covid-19 di Jawa Tengah.
Himbauan
tersebut nampaknya kurang diindahkan oleh masyarakat. Banyak perantau yang
nekat memilih untuk mudik lantaran kecemasan dan ekonomi yang menurun. Hal ini
juga dirasakan di Kabupaten Wonogiri. Sejumlah perantau yang berasal dari
kota-kota besar mulai memasuki wilayah Wonogiri. Sampai dengan 31 Maret,
pemudik yang pulang ke Wonogiri tercatat 29.054 orang yang tersebar di beberapa
kecamatan. Salah satunya adalah Kecamatan Slogohimo.
Hingga
(29/3) jumlah pemudik yang memasuki Kecamatan Slogohimo berjumlah 1258 orang.
Dimana Desa Sukoboyo menjadi desa terbanyak pemudik yang pulang. Tercatat 169
orang yang telah memasuki Desa Sukoboyo. Pemudik telah mendapat perintah dari
Kecamatan Slogohimo serta perangkat desa setempat untuk mengisolasi atau
mengkarantina mandiri selama 14 hari dan jaga jarak dengan anggota keluarga
yang lain. Untuk mencegah persebaran
virus dari pemudik yang berasal dari kota besar khusunya yang berasal dari zona
merah Covid-19.
Pemudik
mau tidak mau harus mematuhi aturan tersebut. Banyak pemudik yang melakukan
karantina di rumah sendiri, meminjam rumah kosong, bahkan hingga mendirikan
tenda untuk mengisolasi diri. Salah satu pemudik yang mengisolasi diri di tenda
adalah warga Desa Sukoboyo hal tersebut rupanya menarik perhatian camat
Slogohimo. Seharusnya warga karantina yang dilakukan didalam rumah saja.
Berbeda
dengan Sukis pria berusia 43 tahun yang merupakan salah satu warga Desa
Sukoboyo. Bapak dengan dua orang anak ini memilih untuk mengisolasi diri dengan
mendirikan tenda di kebun dekat rumahnya. Hal ini dilakukannya karena keadaan
terpaksa. Menurut kesaksiannya Bapak Sukis baru pulang merantau dari Jakarta
yang kemudian mengisolasi diri selama 14 hari sesuai dengan anjuran pemerintah.
Namun, rumah yang Bapak Sukis tinggali bersama dengan keluarga kecilnya terlalu
sempit dan hanya memiliki satu buah kamar. Selain itu ia memiliki anak yang
masih kecil dan tidak mau lepas dari Bapak Sukis sehingga ia berinisiatif untuk membuat tenda agar anak dan istrinya
tetap aman dan ia dapat menjalani karantina dengan tenang.
Apa
yang Bapak Sukis lakukan tersebut nampaknya dapat menimbulkan masalah baru.
Bapak Sukis mungkin menghindari dari virus Corona namun ia bisa terkena
penyakit lain apa bila meneruskan mengisolasi diri di tenda selama
berhari-hari. Mengetahui hal ini lah Camat Slogohimo langsung menindak dan
menegur penanggung jawab Desa Sukoboyo untuk membujuk Bapak Sukis agar
megurungkan niatnya dalam melaksanakan karantina di dalam rumah saja. Setelah dibujuk
beberapa hari oleh kepala Desa Sukoboyo akhirnya Bapak Sukis meneruskan sisa
karantina didalam rumah.

Komentar
Posting Komentar