Mengenal Siti Munjiyah
Murid Inspiratif Muhammadiyah




Siapakah Siti Munjiyah?

Beliau merupakan tokoh wanita Muhammadiyah yang pernah mewakili Aisiyah dalam Kongres Perempuan pertama dan sekaligus menjabat sebagai wakil Kongres Perempuan pertama tersebut. Selain Siti Munjiyah, utusan Hoofdbestuur (HB) Aisiyah yang menjadi panitia adalah Siti Hayinah.

Berawal dari perkumpulan Sapa Tresna yang terbentuk tahun (1914). Perkumpulan Sapa Tresna pada awalnya merupakan kursus membaca Al-Qur’an di bawah bimbingan K.H. Ahmad Dahlan, dalam perkmbangannya Sapa Tresna mulai berkembang dan aktivis yang mengikuti perkumpulan Sapa Tresna mulai bertambah. Semakin banyak santri perempuan yang aktif di perkumpulan Sapa Tresna, di antara mereka adalah lulusan sekolah netral dan sekolah agama, maka pada tahun 1917 Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah secara resmi mendirikan Aisiyah sebagai organisasi sayap yang bercita-cita memajukan perempuan Islam.

Nyai Ahmad Dahlan, pembina santri-santri perempuan di internaat (pondokan), berkali-kali menyampaikan petuah agar seorang isteri berpenampilan sederhana. Kaum isteri dihimbau agar tidak silau pada perhiasan mewah sampai-sampai mereka rela meminjam uang kepada tetangganya hanya untuk mengejar penampilan atau agar terlihat cantik.

“Wanita jangan memiliki jiwa kerdil, tetapi berjiwa srikandi!” pesan Nyai Dahlan kepada para santri putri. “Apabila wanita itu minta bermacam-macam menunjukkan bahwa mereka miskin!” tegasnya.

Pesan Nyai Ahmad Dahlan ini betul-betul telah terpatri dalam jiwa santri-santrinya. Salah satu santri perempuan hasil didikan Nyai Ahmad Dahlan berhasil menjadi tokoh nasional dengan pembawaan yang sederhana. Kepribadiannya amat sederhana, tetapi berjiwa srikandi. Dia telah ditunjuk mewakili HB Muhammadiyah bahagian Aisyiyah dalam Kongres Perempuan Indonesia pertama yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tahun 1928.

Perempuan muda itu menjadi wakil ketua panitia, bersanding dengan R.A. Sukonto, ketua panitia kongres. Sebagai wakil ketua panitia yang mewakili utusan Aisyiyah, dia mendapat kesempatan untuk berpidato, menyampaikan pandangan-pandangannya seputar kedudukan wanita dalam Islam. Terlihat semangatnya menyala-nyala. Pidatonya panjang berisi pemikiran-pemikiran tajam.
Pada kesempatan tersebut Siti Munjiyah menyampaikan khutbahnya seputar Derajat Perempuan yang disesuaikan dengan peserta Kongres. Dalam khutbah tersebut sempat menjadi perdebatan ketika Munjiyah menyampaikan khutbahnya mengenai padangan Islam terhadap hak-hak perkawinan dan kedudukan wanita. (lihat Soeara Moehammadijah no. 5 dan 6 Th. XI/Agustus 1929).

Dalam khutbahnya tersebut Munjiyah membuka pandangan terhadap hak-hak perempuan dalam Islam, bagaimana Islam begitu sangat memuliakan dan meninggikan derajat wanita.

Namun dalam kehidupan pernikahan Siti Munjiyah nampaknya kurang selaras dengan apa yang ia sampaikan dalam Konggres Perempuan tersebut. Pernikahan yang ia bangun dengan sang suami K.H. Ghozali tidak berjalan harmonis dan berakhir dengan perceraian. Setealah perceraiannya tersebut Siti Munjiyah memilih untuk tidak menikah kembali.

Dalam kesendiriannya tersebut Siti Munjiyah memilih mengabdikan diri untuk menyiarkan agama Islam dan mengelola Aisyiyah bersama perempuan-perempuan lain dengan penuh semangat. Hingga sekarang Aisyiyah menjadi organisasi sayap Muhammadiyah yang telah berkembang dan mampu mencerdaskan anak-anak bangsa dibawah panji-panji Muhammadiyah yang sesuai dengan syariat Islam.

Siti Munjiyah patut kita jadikan tokoh inspiratif, karena yang dulunya hanya seorang murid di Sapa Tresna hingga dapat menggerakan dan memberi motivasi kepada para perempuan melalui Konggres Perempuan bahkan dapat menjadi wakil ketua dalam Konggres tersebut. Tak hanya itu, ia tak henti berdakwah serta memberikan semangat dan mengembangkan Aisyiyah menjadi Organisasi wanita yang dapat mencerdaskan anak-anak bangsa.

Sumber: https://alif.id/read/muarif/209732-b209732p/

Komentar